Sunday, September 16, 2007

Acara BBQ Ulang Tahun Irza

Ini adalah "liputan terlambat" acara BBQ ulang tahun Irza pada tanggal 26 Agustus 2007 yang lalu, walaupun foto-fotonya sudah lama saya upload ke situs Multiply dan Flickr saya sejak bulan lalu. Mohon maaf, mengingat kesibukan, saya kurang banyak mempunyai waktu yang cukup untuk meng-update blog-blog saya.

Irza merayakan hari ulang tahunnya yang ke-6 pada hari Rabu, 22 Agustus 2007. Pada hari tersebut, istri saya membuat sebuah kue ulang tahun khusus untuk Irza. Kita mengadakan acara ulang tahun dan tiup lilin kecil-kecilan di rumah, hanya kita berempat saja. :) Setelah itu, malamnya kita pergi ke Swensen's di Holland Village untuk makan malam dan menikmati es krim. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Hari Minggu berikutnya, pada tanggal 26 Agustus 2007, kita mengundang beberapa (tidak banyak) keluarga Indonesia di Singapura lainnya ke acara BBQ ulang tahun untuk Irza. Acara kecil-kecilan tersebut diadakan di BBQ pit dekat kolam renang di Club House kompleks apartemen. Beberapa teman Inka dan Irza yang datang diantaranya adalah tetangga Abhy dan Kanaya, Titis, Nadira dan Adam, Ivan dan Rayna, serta Naura dan Naila.

Sayangnya, kita tidak bisa menggunakan kolam renangnya karena sedang under maintenance. Walaupun demikian, acara BBQ tersebut berjalan dengan lancar. Istri mengadakan acara dekorasi cupcakes untuk anak-anak, dan ternyata anak-anak tersebut mahir mendekorasi cupcakes tersebut. Hasilnya bagus-bagus. :) Anak-anak juga having a great time bermain dengan balon, dan juga bermain di playground yang terletak tidak jauh dari lokasi acara.

Bagaimana dengan menu BBQ-nya? Ada sate ayam bulgogi, sate sapi bulgogi dan chicken wing dari Seoul Garden, sate buatan istri dan yang paling penting, kue ulang tahun dari Prima Deli untuk anak-anak.

Foto-fotonya bisa dilihat disini atau disini.

Monday, August 27, 2007

Bazaar KBRI Singapura 2007

Hari Minggu (26/8) kemarin, di sela-sela kesibukan menyiapkan segala sesuatunya untuk acara BBQ merayakan ulang tahun Irza (liputan menyusul), saya dan Irza paginya menyempatkan diri ke KBRI Singapura di Chatsworth Road untuk mengunjungi acara bazar tahunan dalam rangka hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-62. Seperti halnya tahun lalu, KBRI benar-benar penuh dengan lautan manusia, semuanya orang Indonesia yang tinggal di Singapura, baik expat maupun domestic worker.

Saya dan Irza sampai di KBRI sekitar jam 11:30 pagi, dan untungnya saya masih dapat tempat parkir dengan mudah. Saya harus memperlihatkan KTP untuk memasuki kawasan kedutaan, mengingat hanya warga negara Indonesia saja yang diperbolehkan mengunjungi acara tersebut. Ada panggung gembira dengan artis-artis terkenal (katanya) seperti Thomas Djorghi dan lain-lain, walaupun tentu saja tujuan kita kesana bukan panggung gembira-nya, tapi jajaran kios-kios yang menyediakan banyak makanan-makanan khas Indonesia yang jarang ditemukan di Singapura ini.

Hampir semua makanan-makanan khas Indonesia yang popular ada disana, seperti nasi uduk, nasi gudeg, sate, ketoprak, gado-gado, masakan Padang/Minang yang asli (bukan padang melayu) termasuk sate padang, dan banyak lagi jenis makanan lainnya. Saya membeli nasi gudeg dari kios yang juga menjual sate Braddell-nya Hany dan pempek Palembang-nya Iif (lupa nama kiosnya), dan es buah segar dari kios di sebelahnya. Ternyata Irza pengen sate, sehingga saya pun pesan 10 tusuk sate Braddell dengan lontong yang langsung ludes dimakan di tempat oleh Irza. Saya cuma disisain satu tusuk *hiks*.

Saya juga beli mie Aceh dan rujak Aceh dari Nonong, yang kebetulan juga buka kios disana. Kiosnya itu yang pertama di sebelah kanan dari arah pintu gerbang, bersama-sama Gita dan ibu-ibu lainnya (saya ingat soalnya Roni juga "gentayangan" di sekitar kios itu). :) Saya juga membeli nasi uduk pesanan istri di kios yang sama, bakwan di kios seberangnya, dan risoles pesanan istri di kios Kedai Ibu-nya Ellen.

Selain para "vendor" yang saya sebutkan diatas, cukup banyak teman-teman lain yang saya temui disana, kebanyakan rekan-rekan di komunitas Indo-Sing dan IMAS. Diantaranya adalah Judhi Prasetyo, yang seperti biasa, berkeliling sambil membawa senjata utama-nya, kamera. :) Selain Judhi, Andre Halim juga lumayan sibuk memotret disana-sini. :) Saya juga sempat bertemu dengan Sandy dan Elsy, Yolli and Baby yang memborong sate Braddell, dan juga Ahmad Dasuki. Selain itu, Rio, Haris, Kang Iif, dan Iwan juga tentu saja ada disana menemani para istri yang sibuk berjualan. :) Sempat juga papasan dengan Fivtanto dan Duddy pas kita lagi jalan keluar.

Foto-fotonya bisa dilihat disini. Selain itu, beberapa foto dari sumber lain juga bisa dlihat disini (courtesy of Andre) dan disini (courtesy of Ati).

Thursday, August 23, 2007

Singapore Fireworks Celebration 2007

Pada hari Sabtu malam (18/8) kemarin, setelah nganterin Inka dan Irza les piano di School of Music Clef di Suntec City, dilanjutkan makan malam di Bistro Delifrance di lantai basement shopping mall yang sama, kita pergi ke daerah Marina Bay untuk menonton pertunjukan kembang api dalam rangka Singapore Fireworks Celebration 2007. Tujuan kita adalah Marina Boulevard, jalan baru yang dibangun di sebelah gedung NTUC One Marina Boulevard menuju ke daerah pembangunan integrated resort yang baru. Dari sana view ke arah teluk Marina jauh lebih bagus karena tidak terhalang banyak gedung seperti halnya di daerah Esplanade atau Merlion Park.

Ternyata oh ternyata, baru keluar parkiran Suntec City udah langsung terjebak macet. Butuh waktu 20-30 menit merayap di Raffles Avenue dari depan tempat pembangunan kincir Singapore Flyer sampai perempatan dekat Esplanade. Kita baru bisa masuk Marina Boulevard hanya sekitar setengah jam sebelum pertunjukan kembang api dimulai. Dan disana, tidak ada tempat parkir sama sekali. Jalanan juga macet total, jadi kita berpikir, ya sudah lah kita nonton dari mobil saja. Eh, ternyata kemudian banyak petugas traffic police yang mengatur lalu lintas dan menyuruh kita segera bergerak agar lalu lintas kembali lancar. Akhirnya terpaksa main "kucing-kucingan" dengan petugas, hahaha. Kalo pas petugas ngga ada, kita berhentiin mobil, lha wong mobil di depan kita juga berhenti kok, gimana kita bisa jalan. :) Kalau pas ada petugas yang ngatur lalu lintas dan nyuruh kita jalan, ya kita jalan walaupun diusahakan sepelan mungkin.

Sebenarnya, pas jam 9pm waktu pertunjukan kembang api seharusnya dimulai, lokasi mobil kita itu pas banget di tengah-tengah Marina Boulevard, lokasi yang paling bagus dan strategis untuk nonton. Eh, ternyata mulainya terlambat 20 menit, dan pada saat kembang api-nya mulai dinyalakan pas jam 9:20pm, mobil kita udah terlalu ke arah timur, dan pandangan ke arah teluk terhalang seng pembatas area pembangunan integrated resort. Mumpung tidak ada petugas, saya bersama Inka dan Irza langsung turun dari mobil, sementara istri tetap stay di mobil sambil foto-foto.

Seru juga. Pertunjukan kembang apinya juga lumayan lama, malah seingat saya lebih lama dibandingkan pertunjukan kembang api waktu acara NDP preview kemarin. Foto-fotonya bisa dilihat di blog Multiply istri saya disini.

Sunday, August 05, 2007

Super "Shomin" Car

Salah satu kegemaran Irza (dan kadang Inka juga) adalah bermain permainan electronic drum set yang banyak terdapat di pusat permainan (amusement centre) di Singapura. Kalau tidak salah, permainan drum set tersebut kadang juga ada di pusat permainan Timezone di Indonesia. Walaupun masih dalam tahap beginner, Irza sudah lumayan pintar memainkan drum set tersebut dan sering mengundang decak kagum orang lain yang melihat permainannya.

Salah satu lagu yang disuka oleh Irza (dan juga oleh saya :P) dalam permainan tersebut adalah lagu Super "Shomin" Car, sebuah lagu yang diambil dari sebuah film kartun di Jepang dengan irama dan beat yang riang. Selain itu, Irza juga suka memainkan lagu Merry Go Round, yang juga diambil dari sebuah film kartun di Jepang. Kenapa semuanya lagu-lagu Jepang? Karena permainan drum set tersebut dibuat di Jepang oleh engineer-engineer orang Jepang juga, kalau tidak salah dari Yamaha.

Berikut adalah lagu Super "Shomin" Car yang saya dapat dari YouTube.

Saturday, July 21, 2007

Syukuran Rumah Baru Tante Shinta

Hari Sabtu minggu lalu, 14 Juli 2007, setelah mampir ke rumah Tante Hany di Braddell untuk mengambil pot dan sedikit tanah untuk Inka menanam bibit tanaman bunga matahari yang dia beli di sekolah (dan sekalian ngambil pesanan pisang molen mentah untuk digoreng di rumah), kita pergi ke rumah Tante Shinta, Om Wisnu dan Aidan yang baru di Sengkang, untuk acara syukuran kecil-kecilan.

Disana, kita bertemu dengan Om Jan dan Tante Damar, yang datang bersama Arya dan Falin, serta Tante Luki, yang datang bersama Nadira dan Adam. Menyusul kemudian, keluarga Om Emil dan Tante Nonong, yang datang lengkap dengan keempat putra-putri mereka, Marsya, Fazil, Naira dan Fauzan. Sayangnya, Om Wisnu sendiri sedang tidak ada di rumah karena harus bekerja pada hari Sabtu itu.

Anak-anak pada senang bermain di tempat bermain yang berada pas di depan blok rumah Tante Shinta. Sayangnya, entah kenapa, Irza kurang bisa bergabung dan bermain sementara Inka asyik bermain dengan teman-temannya, membuat Irza agak merasa "dikucilkan" mengingat biasanya dia selalu bermain dengan Inka. Tapi pada umumnya, anak-anak tersebut semuanya really having a great time. :)

Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Saturday, July 14, 2007

Ulang Tahun Fazil dan Tante Gita

Hari Sabtu (7 Juli 2007) yang lalu, kita sekeluarga pergi ke Changi airport untuk mengantar Nenek (mertua saya) yang pulang ke Jakarta, setelah tinggal selama kurang dari sebulan di Singapura untuk menemani Irza yang dikhitan disini. Beliau menggunakan pesawat Lufthansa yang berangkat dari Terminal 2 bandara Changi, dan sekarang sudah berada di Jakarta. Foto-foto selama di bandara Changi bisa dilihat disini.

Dari bandara Changi, kita meneruskan perjalanan ke Pasir Ris Park, yang terletak di Pasir Ris, timur laut Singapura, untuk menghadiri acara gathering keluarga IndoSing-Mums (ISM), sekalian untuk merayakan ulang tahun Fazil dan Tante Gita. Fazil adalah putra dari Om Emil dan Tante Nonong, sedangkan Tante Gita adalah Mama-nya Fathir.

Total ada tiga kue ulang tahun yang disiapkan, dua untuk Fazil dan satu untuk Tante Gita. Tentu saja, ada acara tiup lilinnya juga, untuk Fazil dan juga untuk Fathir (mewakili Mama-nya). Tante Gita sempet grogi ketika mencoba menyalakan api lilin di kue ulang tahun Fazil yang di tengah, dan ternyata tidak mau nyala. Akhirnya, satu lilin dari kue Tante Gita dipindahkan ke kue-nya Fazil. :)

Banyak sekali makanan yang disiapkan oleh para ibu-ibu ISM untuk acara ini. Ada mie ayam, mie bakso dan segala jenis makanan khas Indonesia lainnya, termasuk sate Braddell-nya Tante Hany dan rujak aceh-nya Tante Nonong. Makanan yang berlimpah memberikan kesempatan kepada para ibu-ibu untuk melakukan "ritual" penjarahan dan membawa pulang makanan yang tersisa. :)

Anak-anak senang sekali bermain di playground disana. Tempat bermainnya besar, dan banyak sekali jenis permainan yang tersedia, mulai dari ayunan, piring berputar dan lain-lain. Juga ada lapangan yang bisa digunakan untuk bermain bola, tidak hanya untuk anak-anak, tapi untuk para Bapak juga. :) Padahal bola yang digunakan hanyalah bola kecil karet punya Irza. :)

Foto-fotonya bisa dilihat disini, dan juga disini, disini, disini dan disini.

Monday, June 18, 2007

Khitan Irza Berjalan Lancar, Terima Kasih atas Doanya

Terima kasih atas doa rekan-rekan, proses khitan atau sunat Irza hari Sabtu (16/6) pagi kemarin berjalan dengan lancar. Irza sama sekali tidak menangis atau berontak pas disunat, hanya sedikit tersedu-sedu saja pas bagian akhir ketika sedang dibersihkan setelah sunat. Sistem sunat-nya di Singapura itu menggunakan cincin (ring), jadi tidak seperti cara klasik yang harus dijahit dan diperban. Metode sunat seperti ini jauh lebih cepat, lukanya pun lebih cepat sembuh. Rasa sakit yang diderita si anak pun jauh lebih ringan.

Proses sunat Irza hanya membutuhkan kurang dari 10 menit. Dan Irza bisa langsung mengenakan celananya sendiri seperti biasa dalam perjalanan pulang dari klinik ke rumah, padahal tadinya kita udah nyiapin sarung just in case dia tidak bisa pakai celana. Dan, percaya atau tidak, sore harinya Irza sudah bisa ikut jalan-jalan sekalian menjemput Aki dan Ene-nya yang lagi jalan-jalan shopping di Orchard. :)

Satu-satunya kesulitan yang dihadapi Irza adalah ketika dia hendak buang air kecil, katanya selalu terasa sakit, terutama pada hari Sabtu pas sunat kemarin. Namun alhamdulillah, sejak hari Minggu kemarin, rasa sakitnya sudah semakin berkurang bahkan Senin pagi ini, Irza sudah bisa buang air kecil secara normal tanpa terasa sakit.

Cincin yang digunakan untuk sunat masih menempel, dan menurut dokternya, cincin itu akan lepas dengan sendirinya dalam waktu 4-5 hari setelah sunat. Uniknya, menurut dokter tersebut, Irza tidak dipantangkan untuk terkena air, malahan disarankan untuk sering mandi (bahkan berendam) supaya cincin-nya bisa lepas lebih cepat. Irza dijadwalkan untuk bertemu dokternya kembali untuk kontrol pada hari Rabu (20/6) besok.

Menjawab pertanyaan dari Dian dan dari Advaya-nya Nurul dan Sita, Irza saat ini berusia 5 tahun, dan akan merayakan ulang tahunnya yang ke-6 bulan Agustus ini. Terlalu muda untuk disunat? Tidak juga. :) Di Singapura sini, usia 5 tahun justru malah dianggap sudah agak terlambat untuk sunat. Rata-rata anak laki-laki Melayu Islam Singapura disini disunat pada waktu mereka masih bayi, atau infant. Menurut dokternya, justru anak laki-laki harus disunat sesegera mungkin, karena lebih muda usianya, lebih mudah prosesnya dan lebih cepat proses kesembuhannya.

Biaya sunat tersebut, secara paket termasuk biaya obat-obatnya, adalah S$200 atau sekitar satu juta rupiah. Menurut orang tua saya yang juga dokter, harga tersebut cukup bersaing, bahkan katanya lebih murah dibandingkan biaya sunat di Jakarta, yang juga sekitar 1.5 juta rupiah.

Friday, June 15, 2007

Irza Akan Dikhitan, Mohon Doanya

Mohon maaf, saya belum sempat meng-upload foto-foto selama liburan kita ke Jakarta awal bulan Juni ini. Nanti kalau sempat, akan saya upload ke situs Multiply saya. Hari Selasa (12/6) malam kemarin, kami sekeluarga kembali ke Singapura bersama Nenek-nya anak-anak (ibu mertua saya), dan Rabu-nya saya harus mulai kerja dan kembali ke rutinitas kesibukan sehari-hari. Hari ini, sepulang dari kantor, saya pergi ke Harbourfront Centre untuk menjemput Aki dan Ene-nya anak-anak (orang tua saya) yang datang dari Jakarta melalui Batam.

Wah, ada occasion apakah gerangan, sampai Aki, Ene dan Nenek-nya anak-anak datang ke Singapura? :)

Mereka datang ke Singapura untuk menemani Irza yang akan dikhitan (sunat atau circumcision) pada hari Sabtu (16/6) pagi besok. Rencananya, Irza akan dikhitan di Klinik Maju, asuhan Dokter Dulfakir Abdul Rasheed, yang berlokasi di daerah Eunos. Kita memilih klinik ini atas rekomendasi dari Nonong dan Emil, teman di Singapura yang juga sudah "menyunatkan" anak mereka disana.

Mohon doanya, semoga proses khitan Irza berjalan dengan lancar.

Wednesday, June 06, 2007

Selamat...

Seperti biasa, dalam perjalanan semi-mudik ke Jakarta seperti sekarang ini, akses Internet saya sungguh terbatas. Tidak bisa online setiap hari, kalaupun bisa, koneksi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan akses dial-up yang lambat. Kadang saya bisa menemukan Wi-Fi hotspots pada saat berkunjung ke shopping mall tertentu, tapi ternyata tidak gratis alias harus bayar. Selama ini saya hanya menemukan hotspot gratis di Mal Pondok Indah.

Tentu saja, situasi "fakir bandwidth" ini tidak mengurungkan niat saya untuk mengucapkan selamat kepada teman-teman saya yang sedang berbahagia minggu ini:

Selamat kepada pasangan Kukuh dan Maria yang baru saja melangsungkan pernikahannya hari Minggu (3/6) kemarin. Semoga berbahagia. :) Wah, padahal saya lagi di Jakarta nih, kok ngga terima undangannya ya. :) Pantesan kemarin Enggar bilang mau ke Jakarta, ternyata mau menghadiri acara pernikahan Kukuh toh. Mbok ya kalo mau nikah itu jangan diem-diem gitu loh. Saya aja baru ngeh kalo Kukuh mo nikah setelah Harry ngasih tau di milis bemo-batavia.

Selamat juga kepada pasangan eRBe dan Tyty yang baru saja dianugerahi putri pertama mereka, Auriel, pada hari Selasa (5/6) sore kemarin, jam 6:28pm waktu Singapura, 2.88kg, 47cm. Mohon maaf, saya dan keluarga tidak bisa menjenguk ke rumah sakit karena kita masih di Jakarta dan baru akan pulang ke Singapura minggu depan.

Photo courtesy of Yolli.

Wednesday, May 30, 2007

Akhir Minggu yang Sibuk

Weekend kemarin adalah akhir minggu yang cukup sibuk untuk kami sekeluarga. Sabtu pagi, 26 Mei 2007, kita pergi ke Ang Mo Kio untuk membeli stik mallet yang biasa digunakan untuk permainan gateball, untuk Andung di Jakarta. Andung, yang berarti "nenek" dalam bahasa Minang, adalah panggilan Inka dan Irza untuk kakak dari nenek mereka (ibu dari istri saya). Saya sendiri tidak menyangka kalau Andung suka bermain gateball. :)

Dari Ang Mo Kio, kita melanjutkan perjalanan ke United Square, sebuah mol yang terletak di Thomson Road, tidak jauh dari Novena Square dan stasiun MRT Novena. Tujuan kita adalah restoran keluarga Globetrotters yang terletak di lantai dua, tempat diadakannya acara ulang tahun Heidi dan Titus yang dihadiri oleh Inka dan Irza. Heidi adalah putri dari Om Willy dan Tante Wilce, salah seorang teman istri saya.

Tempatnya lumayan kecil, tapi nyaman untuk acara ulang tahun. Makanannya lumayan enak, dan juga ada tempat bermain untuk anak-anak. Inka dan Irza juga bertemu beberapa teman mereka, seperti Aidan, Cherish, Cally dan Celin. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Sore ke malam harinya, kita pergi ke acara BBQ yang diadakan oleh tetangga terdekat kita, Pambudi dan Dini. Acara tersebut diadakan di BBQ pit dekat Club House di kompleks apartemen kita. Pambudi dan Dini, bersama ketiga anak mereka, Ilma, Nadia dan Adrian, akan bermigrasi ke Beijing, China, malam ini. Beberapa saat lagi, saya dan istri akan mengantar mereka ke Changi airport untuk melepas kepergian mereka ke Beijing.

Di acara BBQ tersebut, saya bertemu dengan Satya dan Enon, yang datang bersama Dhanis, putra pertama mereka. Inka dan Irza asyik bermain bersama Dhanis dan Nadia. Tuan rumah menyediakan banyak sekali pilihan makanan yang bisa dimakan, mulai dari sate dan sosis bakar, makanan ringan seperti ayam goreng dan kentang, sampai snack ala Jepang.

Saya dan Satya juga berkesempatan untuk menceburkan Pambudi ke kolam renang, sebagai "tanda" apresiasi persahabatan kita selama di Singapura. :) Namun, kita tidak menyangka kalau ternyata Irza pun ikut-ikutan, menceburkan diri ke kolam renang dengan pakaian lengkap. :) Tidak lama kemudian, Inka dan Nadia juga ikut-ikutan nyebur ke kolam renang. Walah, jadi lengkaplah sudah, tiga anak (dan satu orang dewasa) yang basah kuyup di kolam renang dengan pakaian lengkap, pada jam 10 malam. :) :) Benar sekali pepatah yang mengatakan, kalau anak-anak selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. :) Foto-foto selama di acara BBQ tersebut bisa dilihat disini.

Hari Minggu keesokan harinya, kita pergi ke pantai Palawan, Sentosa, untuk menghadiri acara kopdar IndoSing-Mums, komunitas yang diikuti oleh istri. Sayangnya kita datang terlambat, baru sampai kesana sekitar jam 1 siang padahal acara sudah dimulai sejak jam 9:30 pagi. Jadinya kita kesana pas acaranya baru mau bubaran. :) Saya sendiri tidak sempat foto-foto disana, tapi beberapa foto-fotonya (tanpa foto kita-kita yang datang kesiangan) bisa dilihat disini (courtesy of Trie).

Hari Kamis (31/5) besok, saya dan keluarga akan pulang ke Jakarta, Indonesia. Rencananya, kita akan kembali ke Singapura pada tanggal 12 Juni 2007. Waktu hampir dua minggu ini akan kita gunakan untuk "berlibur" di rumah orang tua dan mertua di Jakarta, mumpung anak-anak lagi liburan sekolah. Selama di Jakarta, akses Internet saya terbatas sehingga mungkin saya tidak akan bisa sering-sering check e-mail atau menjawab komentar di blog-blog saya. Harap maklum. :)

Wednesday, May 23, 2007

Ulang Tahun Dhanin dan Jalan-jalan ke Chinese Garden

Pada hari Sabtu, 28 April 2007 yang lalu, kita sekeluarga pergi ke kediaman Om Satya dan Tante Non di Regent Park, Clementi, untuk menghadiri acara ulang tahun Dhanin yang kedua. Dhanin adalah putra kedua Om Satya dan Tante Non. Saat ini, Tante Non sedang menantikan kelahiran anaknya yang ketiga.

Kita juga bertemu dengan keluarga Om Pambudi dan Tante Dini disana. Inka dan Irza senang sekali bermain bersama Dhanis, Nadia dan Adrian. Acara tersebut juga dihiasi dengan pertunjukan sulap dari "the one and only" Om Pambudi. Foto-foto di acara ulang tahun tersebut bisa dilihat disini.

Keesokan paginya, Minggu, 29 April 2007, kita pergi ke Chinese Garden bersama keluarga Om Pambudi dan Tante Dini. Chinese Garden sendiri adalah sebuah taman dengan bangunan-bangunan berdisain Cina yang cantik, terletak di pinggir danau Jurong, tidak jauh dari stasiun MRT Chinese Garden.

Walaupun termasuk tempat wisata yang cukup terkenal di bagian barat Singapura, Chinese Garden tidak mengenakan biaya masuk bagi pengunjung yang datang, kecuali jika ada event khusus disana, seperti acara Lantern Festival yang diadakan setiap tahun disana. Jadi, cukup worth lah untuk dikunjungi. Banyak photo spots bagi penggemar kamera foto. Sayang lokasinya cukup jauh dari hotel-hotel di daerah Orchard dan pusat kota Singapura dimana banyak turis-turis menginap. Tapi, Chinese Garden bisa dikunjungi sekalian kalau mau mengunjungi Jurong Bird Park atau Singapore Science Centre/Snow City.

Tujuan kita ke Chinese Garden pada pagi itu adalah untuk pergi ke sebuah paviliun yang dibangun di sisi danau. Dari paviliun itu, kita bisa memberi makan ikan, kura-kura dan bahkan burung, dengan potongan-potongan roti yang sudah dibeli oleh Om Pambudi sebelumnya. Inka dan Irza benar-benar enjoy bermain bersama Ilma, Nadia dan Adrian sambil memberi makan ikan dan kura-kura disana. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Keluarga Om Pambudi dan Tante Dini adalah keluarga yang paling dekat dengan kita, mengingat mereka juga tinggal di kompleks apartemen yang sama, bahkan di blok yang sama, hanya berbeda lobby saja. Sayangnya, mereka pada akhir bulan Mei ini akan hijrah ke Beijing, Cina. We will really miss them so much. Kayaknya semakin banyak rekan-rekan di Singapura yang memutuskan untuk pindah ke negara lain, entah kenapa. Hari Sabtu (19/5) kemarin kita juga menghadiri acara perpisahan keluarga Om Pambudi dan Tante Dini di Club House Signature Park. Liputan dan foto-fotonya menyusul.

Saturday, April 28, 2007

Bali Trip (Bagian 4 - Terakhir): Jimbaran, Pulau Nusa Dua dan Kembali ke Singapura

(Lanjutan dari Bagian 3)

Ini akan menjadi bagian terakhir dari rangkaian artikel mengenai perjalanan saya dan keluarga ke Bali, akhir Februari/awal Maret lalu. Sekedar referensi, berikut adalah artikel-artikel sebelumnya:
  1. Bagian 1: Perjalanan ke Bali
  2. Bagian 2: Jalan-jalan ke Bedugul
  3. Bagian 3: Jalan-jalan ke Ubud dan Kuta
Mohon maaf atas keterlambatan saya dalam mem-posting artikel terakhir ini. Maklum lah orang sibuk... *caela*. Ini juga adalah untuk pertama kalinya saya mencoba posting artikel ke blog yang berbasis Blogger dengan menggunakan w.bloggar, setelah saya sukses memposting artikel dengan w.bloggar ke blog saya yang berbasis Wordpress. Doakan, semoga berhasil. :)

Seafood Dinner di Jimbaran

Hari Jum'at malam, 2 Maret 2007, setelah hari terakhir konferensi APRICOT 2007, saya mengajak keluarga dan orang tua saya ke Jimbaran, untuk menikmati seafood sebagai makan malam disana. Dari hotel di Nusa Dua, kita naik taksi ke Jimbaran, tepatnya di ujung Jalan Pemelisan Agung. Saya memilih lokasi ini setelah membaca buku Lonely Planet mengenai Bali dan Lombok, yang saya pinjam dari perpustakaan di Singapura dan selalu saya bawa selama perjalanan kita ke Bali. Di pinggir pantai di ujung jalan ini, terdapat deretan beberapa restoran seafood, dan kita memilih restoran seafood Ramayana yang berlokasi di tengah-tengah deretan restoran tersebut.

Sebenarnya, kita bisa memilih duduk di dalam restoran, atau di luar restoran tersebut, diatas pasir di pinggir pantai. Sayangnya, pada saat itu, cuaca tidak terlalu bagus, angin kencang sekali sehingga kalau kita makan di luar (di pinggir pantai), dijamin semuanya akan masuk angin. :) Sehingga akhirnya kita memilih duduk di dalam restoran, walaupun saya, Irza dan Aki sempet juga foto-foto di luar di tepi pantai, walaupun gelap-nya minta ampun. Seafood-nya kita pilih sendiri pada waktu masih dalam keadaan hidup, jadi setelah kita pilih, baru nanti dimasak dan dihidangkan. Kita memilih ikan untuk dibakar dan digoreng (duh saya lupa jenis ikannya apa), chilli crab dan udang goreng mentega. Makanannya ternyata enak-enak, dan ternyata biaya yang harus kita keluarkan tidak mahal. Dengan pesanan yang cukup banyak untuk kita berenam (empat dewasa dan dua anak), berikut minuman dan dessert seperti es kelapa muda, total jendral cuma sekitar tiga ratus ribu rupiah.

Foto-foto selama di Jimbaran bisa dilihat disini.

Jalan-jalan ke Pulau Nusa Dua

Keesokan hari-nya, Sabtu 3 Maret 2007, adalah hari terakhir kita di Bali. Pagi-pagi setelah sarapan, kita menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Pulau Nusa Dua, sebuah pulau (tepatnya peninsula) yang terletak di tengah-tengah kawasan Nusa Dua. Ada dua peninsula yang saling berdampingan (makanya nama daerahnya disebut Nusa Dua), terletak di antara Melia Bali Hotel (tempat kita menginap) dan Grand Hyatt Hotel, sejajar dengan pusat perbelanjaan Bali Collection. Kita memutuskan untuk pergi ke peninsula yang di sebelah selatan (yang lebih dekat ke arah Grand Hyatt).

Memasuki pulau tersebut, kita akan melewati sebuah gerbang berupa candi kecil yang dinamakan Candi Bentar. Menyusuri jalan setapak melewati padang rumput yang cukup luas, di bagian tengah pulau tersebut ada sebuah monumen bertuliskan nama-nama negara yang ikut berpartisipasi dalam proses penanaman pohon-pohon di pulau itu. Kita meneruskan perjalanan ke arah ujung timur pulau itu, untuk melihat waterblow.

Waterblow ini adalah semburan air keatas yang diakibatkan oleh ombak yang datang menerjang kumpulan batu-batu karang yang berlubang, dan tekanan ombak tersebut mengakibatkan air laut disemburkan keatas. Waterblow tersebut terjadi setiap sekitar 30-40 detik sekali, tergantung kekuatan ombak yang datang. Makin kuat ombaknya, makin tinggi semburannya. Inka dan Irza suka sekali melihat fenomena alam ini.

Foto-foto selama di Pulau Nusa Dua bisa dilihat disini.

Pulang ke Singapura

Siangnya, kita bersiap-siap untuk pulang ke Singapura, sementara Aki dan Ene juga pulang ke Jakarta. Untungnya, jam keberangkatan pesawat kita hampir bersamaan sehingga kita bisa berangkat ke bandara Ngurah Rai barengan, walaupun di bandara-nya tetep harus pisah karena berbeda terminal. Kita menyewa taksi van seharga Rp 120.000, cukup untuk mengangkut semua orang termasuk barang, lumayan dibandingkan nyewa dua taksi sedan. Sambil menunggu taksi-nya datang, kita beristirahat di lobby hotel sambil menikmati orange juice dan fruit punch gratis yang disediakan oleh hotel.

Perjalanan ke bandara hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam. Aki dan Ene turun duluan di terminal keberangkatan domestik, sedangkan kita semua turun di terminal keberangkatan internasional. Setelah check-in dan ngurus bebas fiskal yang ternyata berjalan lancar, kita pun melewati imigrasi dan masuk ke ruangan transit bandara Ngurah Rai yang cukup megah dan lengkap. Ada banyak toko duty free termasuk toko Prada dan toko buku Periplus, serta banyak tempat penjualan makanan dan minuman seperti McDonalds dan Baskin Robbins.

Sayangnya, pesawat Garuda yang akan membawa kita ke Singapura mengalami "masalah teknis", dan mengakibatkan delay hampir dua jam. Terpaksa lah saya berusaha untuk keep the children occupied, diantaranya dengan bermain kartu, biar ngga bete di gate nungguin pesawat berangkat. Kelihatannya "masalah teknis" tersebut cukup serius, mengingat Garuda terpaksa harus menyiapkan pesawat baru yang berangkat dari gate yang berbeda. Yah, ngga apa-apalah kena delay daripada terbang ama pesawat yang mengalami "masalah teknis", kan ngeri juga.

Foto-foto selama di bandara Ngurah Rai, Bali, bisa dilihat disini.

(Tamat)

Friday, April 13, 2007

Bali Trip (Bagian 3): Jalan-jalan ke Ubud dan Kuta

(Lanjutan dari Bagian 2)

Setelah acara jalan-jalan ke Bedugul pada hari Minggu, 25 Februari 2007, praktis kita tidak mempunyai banyak waktu untuk berjalan-jalan lagi, mengingat saya sudah mulai mengikuti konferensi APRICOT mulai hari Senin-nya (26 Februari 2007). Istri dan anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu menikmati fasilitas hotel dan jalan-jalan di sekitar kompleks perhotelan di kawasan Nusa Dua, termasuk ke Bali Collection, satu-satunya pusat perbelanjaan di kompleks Nusa Dua. Istri juga tidak terlalu berminat untuk mengajak anak-anak keluar Nusa Dua (misalnya ke Kuta) tanpa saya.

Situasi ini berubah dengan sebuah kejutan yang tidak terduga bagi anak-anak: pada hari Rabu, 28 Februari 2007, orang tua saya, Aki (kakek) dan Ene (nenek) mereka, datang menyusul ke Bali. :) It was really a delighted surprise to both Inka and Irza, mengingat saya dan istri memang sengaja merahasiakan rencana kedatangan mereka sampai mereka datang. :) Langsung pada hari yang sama, Inka dan Irza mengajak Aki dan Ene-nya untuk berenang di kolam hotel. :)

Pada hari Kamis esoknya, saya menyiapkan mobil Kijang lengkap dengan supirnya, untuk membawa kita jalan-jalan keliling Bali. Tujuan kita pada hari itu adalah Ubud, pusat kebudayaan Bali. Acara ke Ubud dimulai dengan mengunjungi sebuah galeri lukisan bernama Muji Painting Studio, yang terletak di desa Mawang, dekat Singapadu, selatan Ubud. Cukup banyak lukisan-lukisan yang dijual disana, tapi harganya relatif mahal sehingga tidak ada satupun yang kita beli.

Dari sana, kita melanjutkan perjalanan ke Sacred Monkey Forest Sanctuary, atau Mandala Wisata Wenara Wana, sebuah kompleks hutan kera yang terletak di Padangtegal, Ubud. Istri, yang tidak suka dengan monyet, tidak ikut masuk ke kompleks hutan tersebut dan lebih memilih mengunjungi banyak toko-toko suvenir yang berada di depan pintu masuk kompleks. Tiket masuknya kalau tidak salah sepuluh ribu rupiah saja, per orang.

Menurut petugas yang menjual tiket, monyet-monyet disitu tidak agresif dan tidak pernah mencuri barang-barang pengunjung, seperti kacamata atau handphone. Ini berbeda dengan monyet-monyet yang ada di kompleks Pura Luhur Uluwatu atau Alas Kedaton/Sangeh, misalnya, yang suka agresif dan aktif mencuri barang-barang yang terlihat berkilau.

Memasuki kompleks, kita akan berjalan menyusuri jalan setapak beton dengan banyak monyet-monyet jinak di sekeliling kita. Inka dan Irza senang sekali berfoto dengan monyet-monyet itu. Di tengah-tengah kompleks, ada sebuah bunderan dengan kolam yang dilengkapi dengan air mancur di tengah-tengah bunderan itu, dengan banyak monyet-monyet yang mandi, bahkan terjun menceburkan diri ke kolam! Seru sekali.

Di bagian lain dari kompleks hutan tersebut, terdapat sebuah pura yang dinamakan Pura Dalem Agung. Kita pun sempat berfoto-foto di depan pura tersebut. Walaupun gerbang utama pura tersebut ditutup untuk umum, sebenarnya kita bisa masuk ke dalam pura tersebut melalui jalan samping, setelah membayar sedikit donasi ke petugas disana. Tapi kita memutuskan untuk tidak masuk dan berfoto-foto di depan gerbangnya. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Setelah puas berkeliling kompleks hutan tersebut, kita pun menyempatkan diri berbelanja di banyak toko-toko souvenir yang berjajar di depan kompleks tempat parkir. Istri pun sempat mampir ke sebuah toko beads di Jalan Hanoman, Ubud, sebelum kita kembali ke Denpasar. Tujuan kita berikutnya adalah restoran Ayam Bakar Taliwang yang terletak di Jalan Teuku Umar, Denpasar, untuk makan siang.

Selepas makan siang, kita pun pergi ke Kuta. Tujuan kita berikutnya adalah toko pakaian Joger yang terkenal, yang terletak di Jalan Raya Kuta. Toko ini menjual pakaian dan juga souvenir yang cukup murah, dengan bangunan toko yang ditata dengan rapi, lengkap dengan kolam ikan koi dan spanduk-spanduk dengan kata-kata lucu. Tepat di seberang toko tersebut, ada toko oleh-oleh langganan yang menjual makanan khas Bali, seperti kacang Bali, brem Bali, dan lain-lain.

Sementara istri dan orang tua saya meneruskan perjalanan ke Pasar Seni Kuta untuk (lagi-lagi) berbelanja dan memburu oleh-oleh, saya lebih memilih untuk membawa anak-anak pergi ke pantai Kuta, tepatnya di pinggir Jalan Pantai Kuta di seberang Hard Rock Hotel dan McDonalds. Inka dan Irza pun asyik bermain di pantai, walaupun tidak berenang mengingat hari yang sudah semakin sore, angin yang sangat kencang dan kondisi pantai yang cukup kotor. Sebenarnya kita disana pas waktu terbenam matahari, tapi sayangnya cuaca tidak memungkinkan kita untuk menikmati sunset karena terhalang awan.

Foto-foto selama di Kuta bisa dilihat disini.

(Bersambung ke Bagian 4)