Foto-fotonya bisa dilihat disini.
[English version]
Beberapa hari yang lalu, istri saya juga memesan chilli crab dari salah seorang temannya, Nisi, dan saya berani bilang kalau ini adalah salah satu chilli crab terenak yang pernah saya coba. Rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan chilli crab yang biasa kita beli dari Al-Ameen. Istri saya tinggal kontak lewat Yahoo! Messenger untuk memesan chilli crab itu, dan saya tinggal mampir sebentar ke tempatnya di sekitar West Coast untuk mengambil makanannya, sekaligus melakukan pembayarannya.
Hari Minggu (10 Juli 2006) kemarin, saya dan anak-anak ikutan acara gathering Indo-Sing sekalian makan siang di restoran Ayam Bakar Ojolali, yang terletak di lantai tiga
Walaupun peserta gathering ini tidak sebanyak peserta gathering sebelumnya di Kantin Aneka, tapi hal ini tidak mengurangi keasyikan kita untuk ngobrolin segala macam, termasuk aktifitas waktu senggang Kang Muda Ikhsan yang menarik: nyupir pesawat. :) Max, putranya Sigit, juga begitu senang bisa bermain dengan Inka dan Irza. Mungkin karena biasa di rumah sepi sendirian, musti banyak diajak keluar jalan-jalan tuh Git. :)
Menu yang disediakan cukup beragam, dan semuanya khas masakan
Foto-fotonya bisa dilihat disini.
Kabar gembira. :)
Tanggal 24-25 Juni 2006 yang lalu, saya dan Irza jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk sekedar sightseeing. Kebetulan kantor mengadakan acara weekend tour ke Kuala Lumpur dengan menggunakan bus, sehingga saya dan Irza memutuskan untuk ikut bersama rekan-rekan kantor saya, sementara Inka tinggal di rumah dengan mamanya.
Hari Sabtu (24/6) jam
Bus kemudian melewati jembatan Tuas Second Link sebelum akhirnya menyusuri North-South Expressway ke arah
Dari Yong Peng, bus melanjutkan perjalanan ke daerah Ayer Keroh, Melaka, dan singgah di Restoran Lee, sebuah restoran Cina yang halal. Kita sampai ke restoran tersebut sekitar jam 12 siang, pas waktu-nya makan siang. Disana, kita menikmati santap siang yang sudah termasuk biaya tour, dengan makanan khas Cina yang enak-enak. Foto-foto di restoran tersebut bisa dilihat disini.
Setelah selesai makan siang, kita melanjutkan perjalanan ke
Setelah check-in, acara kita bebas karena city tour
Berjaya Times Square ini adalah sebuah mega shopping mall yang besar, yang dilengkapi dengan indoor theme park di dalamnya. Mirip dengan Bandung Super Mall, tapi dengan skala yang lebih besar. Dulu juga kita sudah beberapa kali mengunjungi mall ini kalau pas ke
Kita naik monorail dari stasiun Imbi ke stasiun KL Sentral, pusat interchange bus dan kereta api di
Setelah membeli tiket, kita langsung mencari pintu masuk ke stasiun KTM Komuter. Dari peta jalur KTM Komuter, terlihat bahwa untuk menuju Serdang, kita harus naik kereta api KTM Komuter tujuan Seremban, di platform 6. Jadi kita segera turun eskalator menuju platform yang dituju. Di platform, ada display yang menampilkan estimasi jadwal kedatangan kereta, yaitu jam 17:24. Eh, ternyata baru sepuluh menit kemudian, sekitar jam
Ternyata, kereta api KTM Komuter itu penuhnya minta ampun. Kita terpaksa berdesak-desakan di antara para penumpang yang berdiri. Saya segera memasukkan dompet dan handphone ke dalam tas, mengingat transportasi umum
Perjalanan kereta api dari KL Sentral ke Serdang membutuhkan waktu sekitar 20 menit, melewati stasiun Mid Valley yang terletak di depan pusat perbelanjaan terkenal, Mid Valley Megamall. Sesampainya di stasiun Serdang, stasiun terbuka yang mirip stasiun kecil di sepanjang jalan kereta api Jakarta-Cikampek, kita langsung menaiki jembatan penyeberangan untuk menyeberang Jalan Sungai Besi ke tempat perhentian water taxi yang terletak pas di seberang stasiun. Dari sana, kita langsung naik water taxi, menyusuri danau dan kanal menuju Mines Shopping Fair, sebuah shopping mall bernuansa unik ala Venesia, dimana terdapat jalur kanal / sungai yang membelah mall tersebut. Dan water taxi yang kita tumpangi langsung masuk ke dalam shopping mall tersebut, dan berlabuh di salah satu dermaga di dalam mall itu. Foto-foto perjalanan kita dari hotel naik monorail, kereta api KTM Komuter dan water taxi ke Mines Shopping Fair bisa dilihat disini. Sayang, kita tidak sempat bikin foto waktu perahu tersebut berlabuh di dermaganya.
Pintu masuk Mines Wonderland terletak tepat di samping shopping mall itu. Biaya tiket masuk ke Mines Wonderland ternyata mahal. Untuk dewasa, tiketnya seharga RM32 (sekitar S$13 atau 80 ribu rupiah), sedangkan untuk anak-anak, tiketnya seharga RM21 (sekitar S$9 atau 52 ribu rupiah). Walah, tadinya udah mau ngga jadi masuk, tapi
Mines Wonderland sendiri adalah sebuah theme park yang sederhana, kalah jauh jika dibandingkan Dunia Fantasi (Dufan) di Ancol, atau Genting Theme Park di Genting,
Besok paginya, kita sarapan di hotel (foto-fotonya disini) sebelum memulai city tour dengan menggunakan bus yang sama. City tour tersebut dimulai dengan mengunjungi sebuah pabrik coklat bernama QS Chocolate Factory, yang terletak di daerah Jalan Imbi. Disitu, kita bisa mencoba (sampling) coklat-coklat yang dibuat disana. Sayangnya, harga-nya masih terhitung mahal, mungkin karena memang tempat ini kelihatannya diperuntukkan bagi para turis. Saya hanya membeli satu boks coklat saja, mengingat Irza yang suka banget sama coklat itu. Foto-fotonya bisa dilihat disini.
Setelah itu, kita mengunjungi Istana Negara, yang terletak di Jalan Istana,
Dari Istana, kita melanjutkan perjalanan ke Tugu Negara, yang terletak di kompleks Taman Tasik Perdana, tidak jauh dari gedung Parlimen, Kuala Lumpur. Disana kita melihat tugu peringatan yang dibangun untuk mengenang para pahlawan
Dari Tugu Negara, kita kemudian tour dengan bus melewati beberapa tempat bersejarah lainnya, seperti gedung stasiun kereta api lama, Dataran Merdeka, gedung Sultan Abdul Samad dan beberapa gedung lainnya, walaupun kita hanya melihatnya dari bus dan tidak turun untuk mengambil foto.
Bus kemudian melanjutkan perjalanan ke Mid Valley Megamall, dan setelah sempet muter-muter jauh ke arah Bangsar karena supir bus-nya ngelewatin satu belokan, kita sampai ke Mid Valley Megamall sekitar jam 11. Wah, kita diberi waktu sekitar 3 jam sampai jam 2 siang, untuk jalan-jalan sekaligus makan siang. Saya akhirnya membawa Irza ke MegaKidz di lantai atas. MegaKidz ini adalah sebuah indoor playground yang besar, untuk anak-anak bermain luncuran dan panjat-panjatan, mirip seperti yang di Parkway Parade atau Downtown East kalau di Singapura. Setelah Irza puas bermain disana, kita kemudian makan siang di Food Junction food court di lantai yang sama. Foto-foto di MegaKidz bisa dilihat disini.
Setelah selesai makan, kita kemudian ke lantai basement untuk membeli Dunkin Donuts yang tidak ada di Singapura, dan roti Bread Talk yang ternyata halal di Malaysia, sebelum kembali ke tempat kita dijemput oleh bus untuk perjalanan kembali ke Singapura.
Seluruh foto-foto selama perjalanan ke Kuala Lumpur tersebut bisa dilihat disini.
Hari Jum’at, tanggal 9 Juni 2006, pagi-pagi saya bersama Irza mengantar istri pergi ke rumah sepupu istri saya di daerah Blok S, Kebayoran Baru, karena istri sudah ada janji sama sepupunya itu untuk pergi (lagi) ke Mangga Dua. Mengingat rumahnya yang dekat tempat makanan di Blok S, mau ngga mau ya nyempetin early lunch disana, sate ayam dan lontong. :) Setelah itu saya mengantar adik ipar saya ke kantornya di Plaza Bapindo, Sudirman, sebelum kemudian bersama Irza pergi ke BCA KCU Fatmawati, untuk mengurus penggantian KeyBCA saya yang sempat tertunda sebelumnya.
Sore-nya, saya mengajak Inka dan Irza ke Depok untuk berkunjung ke sebuah shopping mall baru di daerah Margonda,
Karena masih baru, tentu saja mall ini masih kosong. Yang terlihat rame adalah, tentu saja, toko donut J.Co yang masih saja selalu berhasil membuat orang mengantri panjang demi membeli donut-nya yang (katanya) enak itu. Kita tidak terlalu banyak keliling mengingat kondisi mall yang masih banyak kosong, dan langsung menuju lantai atas, dimana (lagi-lagi) Inka dan Irza langsung menyerbu Timezone yang ada disana.
Kita akhirnya kemudian “menyeberang” ke
Hari Sabtu, 10 Juni 2006 siang, kita pergi ke
Di Citos, kita berbelanja di Matahari, dan juga, seperti biasa, menemani Inka dan Irza main di Timezone (lagi). Sebelum pulang, kita sempet mampir ke Kafe Pisa di lantai atas Citos untuk menikmati es krim. Kita juga sempet mampir ke toko Valu$ di lantai basement (dekat tempat parkir), mengingat istri yang ingin "berburu" barang-barang murah disana. Foto-foto di Kafe
Hari Minggu pagi, 11 Juni 2006, seluruh keluarga sibuk menghadiri acara aqiqah-nya Adyarafa Almefty Priguna a.k.a. Rafa, keponakan yang baru lahir bulan lalu. Rafa adalah putra pertama dari adik saya, Firman dan istrinya, Ria. Acara tersebut dilangsungkan di rumah adik saya di Puri Cinere, Depok. Acaranya termasuk pengajian, dan gunting rambut sang bayi. Foto-foto selama acara tersebut bisa dilihat disini.
Minggu malam-nya, kita semua pergi ke restoran Bakmi Japos di Pangkalan Jati, Cinere, untuk merayakan acara ulang tahun Nenek (ibu mertua saya). Restoran ini tepat di sebelahnya
Hari Senin, 12 Juni 2006, saya pulang ke Singapura sementara istri dan anak-anak masih di
Pagi-pagi di hari Rabu, 7 Juni 2006, kita sekeluarga beserta ibu, ibu mertua dan adik ipar pergi ke
Sampai di rumah orang tua di Cimindi,
Setelah para avid shoppers itu selesai berbelanja, kita terus ke hotel untuk check-in. Kita menginap di Aston Hotel and Residence, sebuah hotel baru yang berlokasi di pusat perbelanjaan Braga Citywalk. Hotelnya masih baru, desain lobby-nya juga bagus, walaupun istri agak kurang suka dengan seragam para staff hotel-nya yang serba hitam. Sayangnya, karena masih baru, pusat perbelanjaannya juga masih sepi, banyak unit yang kosong. Yang buka cuma tempat main (amusement centre) dan food courtnya yang juga masih sepi di lantai dua, selain beberapa unit yang udah buka di lantai dasar dan lantai satu. Oh iya, juga ada biskop
Sore harinya, saya mengantar para avid shoppers ke outlet di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda (Dago),
Besoknya, 8 Juni 2006, pagi-pagi saya dan anak-anak menunggu di depan trotoar Jalan Braga, nunggu dijemput Aki (Bapak saya) yang akan mengantar kita ke pusat brownies Amanda di Jl. Rancabolang, untuk membeli pesanan brownies kukus Amanda yang terkenal itu. Walah, ternyata lokasinya cukup jauh dari pusat
Setelah kembali ke hotel, kita kemudian check-out dan langsung keluar jalan-jalan lagi. Setelah mampir sebentar ke Heritage Jl. Riau untuk menukar baju yang dibeli adik ipar, kita kemudian pergi ke Rumah Mode di Jl. Setiabudi, ujung atas-nya Jl. Cipaganti. Disana para avid shoppers kembali berbelanja, walaupun tidak berhasil membeli apapun mengingat harganya yang sedikit lebih mahal dibandingkan outlet-outlet lainnya.
Sepulangnya dari Rumah Mode, kita pulang ke arah pusat kota melewati Jalan Cihampelas yang terkenal dengan toko-toko jeans-nya itu, dan kemudian mampir ke Cihampelas Walk (CiWalk). Seperti biasa, anak-anak langsung menyerbu arena permainan Timezone disana, sementara para avid shoppers seperti biasa jalan-jalan di seputar mall. Tidak lupa kita juga membeli donut J.Co yang terkenal itu, yang kebetulan punya kaunter di CiWalk. Untungnya kaunter J.Co yang di CiWalk tidak se-antri kaunter-kaunter J.Co lain, terutama di
Setelah puas jalan-jalan di CiWalk, kita kemudian menuju Jalan Pasirkaliki. Tujuan kita adalah restoran Bumbu Desa tempat kita sehari sebelumnya membeli makan malam untuk dimakan di hotel. Hampir semuanya, termasuk ibu mertua saya, suka dengan masakan khas Sunda restoran Bumbu Desa yang memang enak, sehingga kita memutuskan untuk pergi kesana untuk makan siang. Restoran ini terletak di Jalan Pasirkaliki, kalau dari arah perempatan Pasteur, terus ke arah selatan (ke arah pusat kota / stasiun kereta api), nah nanti restoran Bumbu Desa ini ada di sebelah kiri, sebelum Istana Plaza yang ada di sebelah kanan.
Sebenarnya waktu itu sudah lebih dari jam 2 siang WIB (atau jam 3 waktu Singapura), jadi sebenarnya sudah cukup terlambat untuk makan siang. Tapi ini tidak mengganggu kenikmatan kita menyantap makanan lezat khas Sunda yang disiapkan, seperti ayam panggang, ayam goreng, pepes tahu, pepes oncom, kangkung, ikan banding duri lunak, dan yang tidak kalah penting: lalap dan sambal. Sambalnya saja ada dua atau tiga macam, dan semuanya enak. Belum lagi Teh Botol sebagai minuman, dan es cincau hijau sebagai dessert. Sedaaap! :)
Sistemnya disana itu kita tidak langsung duduk, tapi ngambil lauk-lauk mentahnya dulu dari tempat yang sudah disediakan. Setelah itu baru kita kasih lauknya ke petugas untuk digoreng/dibakar, terus kita pergi ke meja atau panggung tempat makan. Foto-foto di restoran Bumbu Desa, termasuk foto-foto makanannya -- you have been warned :) :) -- , bisa dilihat disini.
Setelah selesai makan, kita langsung menyusur Terusan Pasteur terus langsung masuk ke jalan tol Cipularang, kembali ke
Istri dan anak-anak berangkat duluan pada hari Kamis, 1 Juni 2006, sedangkan saya menyusul pada hari Sabtu, 3 Juni 2006 pagi. Dari bandara Soekarno-Hatta, saya langsung dijemput keluarga dan orang tua dan langsung jalan-jalan ke Mangga Dua setelah mengalami pengalaman road rage yang mengesalkan itu. Foto-foto selama di Mangga Dua bisa dilihat disini.
Pagi-pagi besoknya, hari Minggu, 4 Juni 2006, saya bersama istri dan Irza pergi ke Mal Cinere, dan berbelanja di pasar swalayan Hero di lantai basement untuk keperluan penyetokan belanjaan khas Indonesia. Sore-nya, kita sekeluarga jalan-jalan ke Mal Pondok Indah (PIM), Jakarta Selatan. Disana, seperti biasa, anak-anak langsung pada main di Timezone, sementara istri dan orang tua pada shopping.
Oh iya, kita juga sempet makan malam di Bakmi Gajah Mada (atau lebih terkenal dengan sebutan Bakmi GM), restoran di lantai 2 PIM, di seberangnya bioskop 21. Seperti hal-nya Priyadi, keluarga kami adalah penggemar setia Bakmi GM, dan kelihatan sekali ini menurun ke anak-anak saya. Lihat saja Inka dan Irza yang dengan lahapnya menyantap Bakmi GM, yang memang tidak ada di Singapura itu. Foto-foto lainnya di Bakmi GM bisa dilihat disini.
Hari Senin, 5 Juni 2006, waktu saya habis tersita untuk pengurusan SIM di Polres Depok, bersama ibu saya. Namun, ternyata “pengorbanan” itu tidak sia-sia, untuk pertama kalinya saya berhasil mendapatkan SIM secara resmi dan “jujur” dan tidak dengan cara “nembak”. Sampai ikut ujian teori dan praktek juga, loh. :)
Besoknya, Selasa, 6 Juni 2006, dengan SIM sudah di tangan, saya pun menjadi lebih berani untuk “berleluasa” jalan-jalan keliling Jakarta. :) Pagi-pagi sekali saya dan istri ke BCA Cinere dekat rumah untuk meminta penggantian KeyBCA saya yang sudah tidak bisa dipakai karena sudah tidak sinkron lagi. Eh, ternyata cabang pembantu Cinere tidak bisa mengeluarkan KeyBCA instant, sehingga saya disarankan untuk pergi ke BCA kantor cabang utama Fatmawati. Mengingat keluarga merencanakan untuk pergi ke ITC Kuningan pada hari itu, akhirnya diputuskan untuk mengurus penggantian KeyBCA itu di BCA cabang Kuningan.
Menjelang siang, kita sekeluarga, termasuk orang tua saya dan keponakan-keponakan, pergi ke Kuningan. Kita mampir sebentar ke kantor Departemen Kesehatan di Kuningan untuk mengantar ibu saya yang ada keperluan kesana. Sambil menunggu ibu saya, saya berjalan ke gedung Bina Mulia di sebelah, ke cabang BCA disana untuk mengurus penggantian KeyBCA. Eh, taunya cabang BCA kantor cabang utama Kuningan itu sudah pindah ke Gedung Sentra Mulia sejak tahun 1999, sementara yang di Bina Mulia sudah “turun pangkat” jadi kantor cabang pembantu. Walah, Sentra Mulia
Setelah ibu saya selesai dengan urusannya di Depkes, kita rame-rame pergi ke ITC Kuningan. Mengingat sudah waktunya makan siang, sesampainya disana, kita langsung pergi ke Mal Ambassador, tempat perbelanjaan yang terhubung di sebelah, untuk pergi ke food court di lantai empat. Seperti biasa, kita menikmati makanan khas
Setelah makan siang, istri dan ibu saya langsung kembali ke ITC Kuningan untuk hunting barang-barang murah disana, sementara saya dan bapak saya, beserta anak-anak dan keponakan, memilih untuk jalan-jalan di Mal Ambassador, yang tidak se-crowded ITC Kuningan, dan membiarkan anak-anak asyik mandi bola dan main-main di playground disana. Foto-foto di Mal Ambassador bisa dilihat disini.
(Bersambung ke Part 2)
Saya baru saja merilis (caela, emangnya artis :P) blog agregasi baru, yang saya beri nama Planet Singapura. Berbeda dengan Planet Indra yang hanya berisikan agregasi blog-blog saya, Planet Singapura ini berisikan blog-blog dari rekan-rekan blogger Indonesia yang bermukim di Singapura, termasuk saya. :) Yah, itung-itung saya membuat situs blog agregasi ini untuk didedikasikan kepada komunitas masyarakat Indonesia di Singapura *ehem ehem*. :) Dan itu tidak hanya terbatas kepada komunitas Indo-Sing aja loh, tapi untuk siapapun orang Indonesia (terutama blogger Indonesia) yang ada di Singapura. :)Foto-foto ini dibuat sebelum kita pulang ke Jakarta awal bulan ini.
Foto-foto lainnya di Jakarta dan Bandung menyusul. :)Sampai Bandara Soekarno-Hatta,
Eh, sudah jelas dia yang salah, malah dia yang marah-marah. Katanya saya yang nyerempet mobil dia, padahal udah jelas mobil dia yang nyeruduk. Saya memang ngambil jalur dia, tapi waktu itu masih ada jarak satu mobil diantara mobil dia dan mobil di depannya, sementara kita
Ternyata yang nabrak mobil kami itu supir, sementara bos-nya asik duduk di dalam mobil. Cape-lah saya dan orang tua saya adu ngotot sama si supir, mana disitu ada polisi pula. Mengingat kedua-duanya sama-sama tidak mau ngalah, kita nuntut supaya kita saling mengganti kerusakan, dia ganti kerusakan mobil orang tua saya sementara kita ganti kerusakan mobil dia. Eh, dia ngeles bilang gaji dia sebagai supir tidak akan bisa mengganti kerusakan mobil orang tua saya. Sementara bos-nya dengan tenang duduk di dalam mobil dan tidak ikut berdiskusi. Saya baru aja mau bilang dia supaya minta bos-nya yang ganti, tapi ibu saya terlanjur bilang, ya sudah, kita ganti kerusakan sendiri-sendiri.
Belum lagi masalah polisi yang pengen ikut campur, minta SIM dan STNK dari kedua belah pihak. Saya sempet deg-degan mengingat saya pake SIM Singapura dan bukan SIM Indonesia (SIM Indonesia saya sudah expired pada waktu itu), tapi akhirnya tidak masalah setelah saya kasih lihat International Driving Permit (IDP) saya yang dikeluarkan oleh AAS (Automobile Association of Singapore).
Kita lalu terus ke ITC Mangga Dua, nemenin istri dan orang tua belanja di
Padahal saya baru aja nulis artikel mengenai kasus road rage di Jakarta, termasuk sedikit tips untuk menghindari road rage di Jakarta. Siapa yang nyangka saya sendiri akan mengalaminya segera setelah tiba di Jakarta? :(
What a day!
Iyah, kemarin siang saya mengantar istri dan anak-anak ke Changi airport karena mereka akan berlibur selama dua minggu lebih ke Jakarta. Walah, saya ditinggal dong? :) Tidak juga, karena saya juga akan nyusul ke Jakarta besok (Sabtu, 3/6) dan refreshing lah semingguan disana, sebelum kembali ke rutinitas kesibukan di Singapura. Rencana saya akan pulang kembali ke Singapura hari Senin (12/6) sementara istri dan anak-anak akan menyusul kembali ke Singapura hari Minggu depannya (18/6).
Jadi, yaa.. not too bad lah. :) Sepi-nya paling terasa kemarin malam dan (mungkin) nanti malam, walaupun kemungkinan besar nanti malam pun tidak akan terlalu terasa sepi juga karena saya akan sibuk packing. Yang mungkin akan terasa sepi-nya itu mungkin nanti setelah saya pulang kembali ke Singapura tanggal 12, ada jeda beberapa hari sebelum istri dan anak-anak pulang tanggal 18.
Istri dan anak-anak, demikian juga saya besok, ke Jakarta naik Valuair, budget airline Singapura yang sekarang sudah diakuisisi sama JetStarAsia. Lho, kenapa ngga naik AirAsia lewat Batam seperti perjalanan kita terdahulu? Karena kebetulan JetStarAsia, eh, Valuair, lagi ada promosi harga murah untuk penerbangan ke Jakarta, jadi setelah dihitung-hitung dengan biaya tiket AirAsia dari Batam, tambah biaya ferry Singapore-Batam dan taksi di Batam, ternyata harganya tidak jauh beda, walaupun memang tetep lebih mahal sih dibandingkan lewat Batam. Tapi kan kita juga memikirkan waktu dan tenaga yang terpakai untuk lewat Batam, akhirnya kita putuskan untuk naik Valuair aja. Mumpung lagi promosi. :)
Al-Ameen Eating House adalah tempat makan yang terkenal di seputar Bukit Timah, tidak jauh dari tempat saya. Lokasinya tepat di seberang Beauty World Centre, tepatnya di jajaran tempat makan sepanjang Cheong Chin Nam Road, tidak jauh dari Al-Azhar, tempat makan lain favorit keluarga kami disitu.
Sekitar seminggu yang lalu, saya dan istri makan malam disana karena istri kangen dengan roti naan dan masala. Roti naan dan masala adalah dua "pasangan" masakan India yang saya dan (terutama) istri sukai (lihat foto kanan). Roti naan ini mirip dengan roti prata, tapi rasanya sedikit beda, dan seperti halnya roti prata, roti naan juga banyak pilihan rasanya, bisa plain, butter, onion/garlic ataupun cheese. Roti naan ini dimakan bersama masala, semacam rendang-nya India tapi bumbu-nya lebih banyak menggunakan rempah khas India, dan dagingnya bisa berupa daging kambing (mutton) atau ayam (chicken). Dulu kita pernah nyobain chicken masala dan chicken tikka masala, jadi minggu lalu kita coba mutton masala-nya. Dan ternyata, tidak kalah enaknya. :)