Baru saja dapat kabar gembira dari rekan Emil, bahwa istrinya Nonong, salah satu teman kuliah saya dan istri yang juga bermukim di Singapura, telah melahirkan bayi laki-laki pada hari ini (Senin, 16 Oktober 2006) di rumah sakit Gleneagles pada jam 3:02 siang waktu Singapura.
Alhamdulillah, bayi dengan berat 3.83 kg dan panjang 53.5 cm tersebut, beserta Bunda-nya dalam keadaan sehat wal'afiat. Saat ini Nonong masih berada di labour ward, Insya Allah dalam waktu sekitar 2 jam lagi akan dipindahkan ke kamar.
Atas nama keluarga, saya mengucapkan selamat kepada Emil dan Nonong atas kelahiran putra mereka, semoga putranya selalu berada di bawah lindungan Allah SWT dan menjadi anak yang sholih dan berbakti kepada agama dan orang tua.
Update - 17:45hrs SGT:
Bagi rekan-rekan yang ingin menjenguk, silahkan ke rumah sakit Gleneagles, 6A Napier Road (sebelah Botanic Gardens), di kamar 502. Waktu berkunjung dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam.
Monday, October 16, 2006
Saturday, October 14, 2006
Vivo City
Foto-foto yang lain dengan resolusi lebih tinggi bisa dilihat disini.
Monday, October 02, 2006
Rujak Aceh dan Buka Puasa Bersama
Rujak Aceh adalah salah satu masakan spesialisasi Nonong, mengingat beliau yang memang berasal dari Aceh. Cooking class sendiri adalah acara yang sering diikuti oleh istri saya bersama para ibu lainnya untuk mencoba memasak satu jenis makanan tertentu, lalu hasil makanannya dinikmati sendiri dan kalau ada lebihnya, dibawa pulang. Waktu itu istri saya membawa rujak Aceh-nya pulang, alhasil menu makan malam pada waktu itu ditambah dengan dessert rujak Aceh yang alhamdulillah, enak sekali.
Berikut adalah sebagian foto-fotonya, mohon maaf, ada beberapa foto dengan kualitas kurang baik karena di-capture dari moving video, dengan lighting yang kurang, karena lupa bawa video light.
Aily dan Athaya, dua orang teman yang cukup akrab dengan Inka karena sudah beberapa kali bertemu di berbagai acara. Aily adalah putri dari Om Judhi dan Tante Ami, sedangkan Athaya adalah putri dari Tante Wiwie.
Hanifa dan Inka. Ini adalah pertama kalinya Inka bertemu dengan teman barunya itu. Hanifa adalah putri pertama dari Om Dicky dan Tante Kandy.
Algo dan Alita. Algo adalah adiknya Aily, sementara Alita adalah adiknya Athaya.
Fadzil, salah satu tuan rumah. Dia adalah adik dari Marsya, dan merupakan putra dari Om Emil dan Tante Nonong. Sayang, Marsya sendiri tidak berhasil ke-jepret kamera.
Iffah, putri dari Om Duddy dan Tante Ellen. Iffah lebih pendiam dan tidak banyak bermain dengan teman-teman lainnya yang "super heboh" sampai mengacak-acak kamar.
Dzaky, abang-nya Athaya dan Alita. Karena kebanyakan teman-teman yang datang lebih kecil, Abang Dzaky tidak punya teman bermain yang "sepantar" sehingga akhirnya bermainnya dengan para Bapak-Bapak, yang juga ikut bernostalgila (masa kecil kurang bahagia?) dengan bermain bola di dalam rumah *walah!* :) :)
Baby Ica, adiknya Hanifa. Jadi "primadona" di acara tersebut dan dikerubungi oleh banyak anak-anak lainnya.
Foto-foto yang lain bisa dilihat disini.
Saturday, September 30, 2006
Farewell Party Om A dan Tante Wiwied
Berikut adalah sebagian foto-fotonya:
Di atas adalah foto Inka, yang sedang asyik bermain dengan teman-temannya di squash court. Sementara di bawahnya adalah foto Irza yang sedang asyik bermain di games room.
Di atas adalah foto Alita, dengan Inka dan Irza di latar belakang, sementara di bawahnya adalah kakak Alita, Athaya. Alita dan Athaya adalah putri dari Tante Wiwie dan Om Bubun, yang sekarang sudah berada di Saudi Arabia. Mereka punya seorang abang laki-laki bernama Dzaky, yang sayangnya tidak ada di foto. Mereka semua, termasuk Tante Wiwie, akan menyusul Om Bubun untuk pindah ke Saudi Arabia akhir tahun ini.
Di atas adalah foto dari Hanan, sementara di bawahnya adalah foto dari Haifa. Hanan dan Haifa adalah putri dari Tante Hany dan Om Iwan. Om Iwan sendiri baru ikut menyusul ke tempat acara cukup malam, menjelang acara berakhir, karena urusan pekerjaan. Sesuai tradisi, Tante Hany menyediakan sate Braddell yang terkenal di Singapura untuk acara tersebut, sayangnya kita datang agak terlambat, jadi kehabisan. :) Namun demikian, kita sempat mencoba sup kambing-nya, yang ternyata tidak kalah enak dengan sate-nya.
Di atas adalah foto dari Aily, sementara di bawahnya adalah foto dari Algo. Aily dan Algo adalah putri dan putra dari Om Judhi dan Tante Ami. Om Judhi adalah salah seorang fotografer Indonesia ternama di Singapura. :)
Di atas adalah foto dari Noe, putra dari Om Indi dan Tante Rani. Sementara di bawahnya adalah foto dari Dandy, putra dari Om Adhi dan Tante Cindy.
Foto-foto lainnya bisa dilihat disini, disini (thanks to Tante Hany) dan disini (thanks to Om Judhi).
Friday, September 29, 2006
Irza, Origami dan Bahasa Indonesia
"Nih Pa, lihat, Adek (panggilan Irza untuk dirinya sendiri) udah bisa bikin pewasad dari kertas."
"Bikin apa?"
"Pewasad."
Saya bingung. Pewasad itu apa? Mikir-mikir lagi, siapa tau itu adalah bahasa Melayu yang ada padanan katanya di bahasa Indonesia. Tapi tidak ketemu juga.
"Pewasad itu apa, Dek?"
"Aeroplane."
"Oh, itu mah pesawat, Dek, bukan pewasad."
"Oh iya, Adek lupa bahasa Indonesianya..." sambil nyengir.
Weleh weleh...
Tuesday, September 26, 2006
Genting Highlands
Ada dua pilihan jalan yang bisa digunakan untuk pergi dari Singapura ke Malaysia. Yang pertama, adalah Causeway yang menghubungkan Woodlands di Singapura, dan kota Johor Bahru di Malaysia. Jalur ini adalah jalur utama lalu lintas antara Singapura dan Johor Bahru, dan merupakan jalur yang sangat sibuk setiap harinya, baik hari kerja maupun (apalagi) hari libur. Pilihan kedua, adalah jalur Tuas Second Link, jalur baru yang baru dibuka pada tahun 1998. Jalur ini menghubungkan Tuas di Singapura dengan Tanjung Kupang, Johor. Jalur ini adalah jalur alternatif bagi mereka dari Singapura yang ingin langsung ke arah Kuala Lumpur atau Melaka, tanpa melewati kota Johor Bahru, karena jalan tol Second Link (rute E2) ini akan langsung bergabung dengan jalan tol North-South Expressway (NSE) menuju Kuala Lumpur, di daerah Senai.
Dari rumah, kita meluncur ke Tuas melalui expressway PIE dan AYE. Jalan bebas hambatan AYE ini akan berakhir di Tuas checkpoint, gerbang imigrasi di sisi Singapura. Disini, mobil kemudian akan melewati gerbang-gerbang yang mirip gerbang tol di Indonesia. Disana, semua paspor akan diperiksa, dan untuk non-residen seperti orang tua saya, kartu imigrasi Singapura harus disiapkan, dan paspornya akan di-stamp meninggalkan Singapura. Mirip seperti kalau kita melewati gerbang imigrasi di bandara Changi kalau mau meninggalkan Singapura. Selain itu juga kita harus membayar tol, dengan menggunakan cashcard.
Memasuki Malaysia, masih beberapa kilometer lagi sebelum kita sampai di checkpoint Malaysia. Disini, kita harus menyiapkan semua paspor dan kartu imigrasi Malaysia yang sudah diisi. Sebelum meninggalkan counter imigrasi, pastikan bahwa paspor kita dicap, kalau tidak kita nanti bermasalah pas nanti pulang meninggalkan Malaysia. Setelah melewati imigrasi, kita akan melewati jalan tol Second Link yang akan kemudian bergabung dengan jalan tol North-South Expressway (rute E2) menuju Kuala Lumpur.
Kita mampir sebentar di "kawasan rehat" (rest area) Seremban untuk makan siang. Total perjalanan dari Singapura ke Genting Highlands, termasuk waktu yang diperlukan untuk makan siang, adalah sekitar 5 jam. Memasuki Kuala Lumpur, kita akan membayar tol di gerbang tol Sungai Besi, dan dari sana kita mencari mengikuti petunjuk menuju Cheras dan masuk ke jalan Middle Ring Road 2 melewati Cheras, Ampang dan Setapak (Jalan Ulu Kelang). Sebenarnya ada jalan lain ke Genting melewati pusat kota KL terus ke Jalan Kuching dan melewati Batu Caves, tapi perjalanannya sedikit lebih jauh. Ring Road tersebut akan kemudian bergabung dengan jalan tol Karak Expressway ke arah Kuantan. Kita keluar dari jalan tol ke arah Genting Highlands sebelum terowongan Genting Sempah.
Kereta gantung itu akan berakhir di stasiun Lower Skyway Station yang terletak di daerah Gohtong Jaya. Skyway Station ini adalah tempat dimana bus-bus pariwisata parkir, dan para penumpangnya biasanya melanjutkan perjalanan ke Genting Highlands dengan menggunakan kereta gantung itu. Bus express Genting dari pusat kota KL juga terminalnya ada disini. Di dalam gedung ini, juga ada toko besar yang menjual oleh-oleh. Kita menyempatkan diri belanja oleh-oleh sebentar disana sebelum kembali lagi naik kereta gantung ke puncak Genting Highlands.
Keesokan harinya, Selasa, 5 September 2006, adalah waktunya kita meninggalkan Genting. Setelah sarapan di hotel, kita pun check-out dari hotel dan meninggalkan Genting sekitar jam 9:30am pagi. Tujuan pertama kita adalah bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA), mengingat Aki, Uncle Arief, Aunty Via, Alif dan Kayla akan pulang langsung ke Jakarta dari KL, sementara Ene akan tetap mengikuti kita pulang ke Singapura.
Dari Genting Highlands, kita menuruni jalan bypass baru (bernama Chin Swee Bypass) yang lumayan berkelok-kelok sebelum akhirnya bergabung lagi dengan Karak Expressway. Untuk ke KLIA, kita mengambil rute yang sama seperti kita berangkat, jadi keluar dari Karak Expressway kita belok kiri menyusuri jalan Ulu Kelang dan Middle Ring Road 2 lewat Ampang dan Cheras, terus masuk ke North South Expressway (NSE) lewat Sungai Besi. Kita keluar NSE di persimpangan Nilai Utara, dan terus ke arah KLIA. Perjalanan dari Genting ke KLIA memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Sekitar jam 2 siang, kita mampir ke restoran jejantas (jembatan) Ayer Keroh, yang terletak tidak jauh dari Melaka. Disana, saya dan Inka makan siang di KFC, sedangkan Ene, Mama dan Irza makan siang di A&W. Kedua restoran tersebut terletak di atas bangunan jembatan yang membentang di atas jalan tol, mirip seperti jembatan penghubung antar shopping mall di Glodok atau Mangga Dua. Setelah selesai makan siang, kita melanjutkan perjalanan terus ke arah Johor Bahru.
Dari Johor Bahru, lebih dekat pulang ke Singapura melalui Causeway dibandingkan melalui Second Link yang harus jauh memutar ke Gelang Patah. Sayangnya, antrian di Causeway pada saat itu panjang sekali, kita membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke gerbang imigrasi Malaysia. Kalau mau memutar ke Second Link juga lumayan jauh, jadi akhirnya kita bersabar saja mengikuti antrian. Anehnya, justru di gerbang Singapura malah lebih lancar, padahal biasanya kebalik, justru di Singapura yang lebih padat karena lebih ketatnya pemeriksaan. Kita pun sampai kembali ke rumah di Singapura sekitar jam 10 malam. Foto-fotonya bisa dilihat disini.
Pikir-pikir, bener juga kata Haze, padat juga ya acara reuni keluarganya... :D :D
Thursday, September 21, 2006
Tamu Istimewa dari Jakarta
Keesokan harinya, Minggu, 3 September 2006, kita ramai-ramai berangkat ke Genting Highlands. Liputannya menyusul. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)