Tuesday, July 04, 2006

Jalan-jalan ke KL

Tanggal 24-25 Juni 2006 yang lalu, saya dan Irza jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk sekedar sightseeing. Kebetulan kantor mengadakan acara weekend tour ke Kuala Lumpur dengan menggunakan bus, sehingga saya dan Irza memutuskan untuk ikut bersama rekan-rekan kantor saya, sementara Inka tinggal di rumah dengan mamanya.

Hari Sabtu (24/6) jam 6:30 pagi, saya dan Irza harus sudah meninggalkan rumah, karena harus sampai di kantor jam 7 pagi. Perlu diingat, untuk waktu Singapura, jam 6:30 pagi itu masih gelap, mengingat matahari baru terbit jam 7 pagi. Bus pariwisata VIP coach dengan nomor polisi Singapura PZ 1257 T itu berangkat meninggalkan Science Park sekitar jam 7:15am, dan langsung menyusuri Ayer Rajah Expressway (AYE) ke Tuas checkpoint, pintu gerbang Singapura di bagian barat. Antrian di checkpoint lumayan panjang untuk bus (padahal berangkat udah sepagi mungkin), dan bus baru meninggalkan Tuas sekitar jam 8-an.

Bus kemudian melewati jembatan Tuas Second Link sebelum akhirnya menyusuri North-South Expressway ke arah Kuala Lumpur. Bus sempat berhenti di perhentian Yong Peng, memberikan kesempatan kepada mereka yang belum sempat sarapan untuk sarapan disana. Foto-foto di dalam bus selama perjalanan dari Singapura ke Yong Peng bisa dilihat disini, sedangkan foto-foto di Yong Peng bisa dilihat disini.

Dari Yong Peng, bus melanjutkan perjalanan ke daerah Ayer Keroh, Melaka, dan singgah di Restoran Lee, sebuah restoran Cina yang halal. Kita sampai ke restoran tersebut sekitar jam 12 siang, pas waktu-nya makan siang. Disana, kita menikmati santap siang yang sudah termasuk biaya tour, dengan makanan khas Cina yang enak-enak. Foto-foto di restoran tersebut bisa dilihat disini.

Setelah selesai makan siang, kita melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Sesampainya di Kuala Lumpur sekitar jam 2 siang, semuanya langsung check-in ke Hotel Istana, sebuah hotel berbintang lima di kawasan Bukit Bintang, tepatnya di Jalan Raja Chulan, tidak jauh dari stasiun monorail Raja Chulan. Saya dan Irza mendapatkan kamar hotel di lantai 5, dengan view ke arah jalur track monorail. Irza senang sekali melihat dan memfoto monorail yang lewat di depan hotel. Foto-foto di kamar hotel itu bisa dilihat disini.

Setelah check-in, acara kita bebas karena city tour Kuala Lumpur baru akan dimulai keesokan pagi-nya. Setelah istirahat di kamar hotel sebentar, saya dan Irza langsung memulai petualangan berkeliling Kuala Lumpur. Tujuan pertama kita adalah Berjaya Times Square, yang terletak di Jalan Imbi, tidak jauh dari hotel, hanya berjarak dua stasiun monorail saja. Jadi kita berjalan menyeberang Jalan Raja Chulan di depan hotel ke stasiun monorail Raja Chulan, dan dari sana naik monorail ke stasiun Imbi, yang terletak pas di depan Berjaya Times Square. Irza tidak perlu membeli tiket untuk naik monorail, hanya orang dewasa saja yang perlu membayar tiket. Sistemnya mirip dengan sistem farecard di MRT Singapura sebelum berpindah ke sistem EZ-Link yang baru, jadi waktu berangkat, tiketnya dimasukkan ke gate lalu diambil lagi, baru kita bisa melalui gate masuk. Di gate keluar, kita masukkan tiketnya dan tidak akan dikembalikan lagi.

Berjaya Times Square ini adalah sebuah mega shopping mall yang besar, yang dilengkapi dengan indoor theme park di dalamnya. Mirip dengan Bandung Super Mall, tapi dengan skala yang lebih besar. Dulu juga kita sudah beberapa kali mengunjungi mall ini kalau pas ke Kuala Lumpur. Sayangnya, Irza (dan Inka juga, dulu) tidak suka dengan suasana indoor theme park yang terlalu bising itu, terutama jika roller coaster-nya sedang berjalan. Sehingga akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Mines Wonderland, evening theme park yang terletak di daerah Serdang, selatan Kuala Lumpur.

Kita naik monorail dari stasiun Imbi ke stasiun KL Sentral, pusat interchange bus dan kereta api di Kuala Lumpur. Stasiun monorail KL Sentral ini terletak agak jauh dari gedung utama stasiun KL Sentral, jadi harus jalan dulu sedikit melewati lorong pasar yang mirip lorong pasar Bugis di Singapura. Di gedung utama KL Sentral, kita langsung mencari loket untuk membeli tiket KTM Komuter ke Serdang. Berbeda dengan tiket monorail, untuk tiket KTM Komuter ini, anak-anak pun harus membayar.

Setelah membeli tiket, kita langsung mencari pintu masuk ke stasiun KTM Komuter. Dari peta jalur KTM Komuter, terlihat bahwa untuk menuju Serdang, kita harus naik kereta api KTM Komuter tujuan Seremban, di platform 6. Jadi kita segera turun eskalator menuju platform yang dituju. Di platform, ada display yang menampilkan estimasi jadwal kedatangan kereta, yaitu jam 17:24. Eh, ternyata baru sepuluh menit kemudian, sekitar jam 17:35 kereta apinya baru datang. :(

Ternyata, kereta api KTM Komuter itu penuhnya minta ampun. Kita terpaksa berdesak-desakan di antara para penumpang yang berdiri. Saya segera memasukkan dompet dan handphone ke dalam tas, mengingat transportasi umum Kuala Lumpur sudah terkenal dengan para pencopetnya. Untungnya Irza diberi tempat duduk oleh salah seorang penumpang yang kasihan melihat Irza berdiri terimpit-impit.

Perjalanan kereta api dari KL Sentral ke Serdang membutuhkan waktu sekitar 20 menit, melewati stasiun Mid Valley yang terletak di depan pusat perbelanjaan terkenal, Mid Valley Megamall. Sesampainya di stasiun Serdang, stasiun terbuka yang mirip stasiun kecil di sepanjang jalan kereta api Jakarta-Cikampek, kita langsung menaiki jembatan penyeberangan untuk menyeberang Jalan Sungai Besi ke tempat perhentian water taxi yang terletak pas di seberang stasiun. Dari sana, kita langsung naik water taxi, menyusuri danau dan kanal menuju Mines Shopping Fair, sebuah shopping mall bernuansa unik ala Venesia, dimana terdapat jalur kanal / sungai yang membelah mall tersebut. Dan water taxi yang kita tumpangi langsung masuk ke dalam shopping mall tersebut, dan berlabuh di salah satu dermaga di dalam mall itu. Foto-foto perjalanan kita dari hotel naik monorail, kereta api KTM Komuter dan water taxi ke Mines Shopping Fair bisa dilihat disini. Sayang, kita tidak sempat bikin foto waktu perahu tersebut berlabuh di dermaganya.

Pintu masuk Mines Wonderland terletak tepat di samping shopping mall itu. Biaya tiket masuk ke Mines Wonderland ternyata mahal. Untuk dewasa, tiketnya seharga RM32 (sekitar S$13 atau 80 ribu rupiah), sedangkan untuk anak-anak, tiketnya seharga RM21 (sekitar S$9 atau 52 ribu rupiah). Walah, tadinya udah mau ngga jadi masuk, tapi kan sayang udah jalan jauh-jauh kesana, akhirnya kita memutuskan untuk masuk juga. Dengan berbekal kupon diskon 10% pada brosur yang saya dapatkan dari hotel, saya hanya perlu membayar RM48 (dari harga resmi RM53) untuk satu dewasa dan satu anak.

Mines Wonderland sendiri adalah sebuah theme park yang sederhana, kalah jauh jika dibandingkan Dunia Fantasi (Dufan) di Ancol, atau Genting Theme Park di Genting, Kuala Lumpur. Area-nya juga kecil, tidak sebesar Dufan atau Genting. Walaupun demikian, itu tidak mengurangi keasyikan Irza untuk mencoba semua atraksi yang ada. Kita naik kereta api Unity Train, tram Road Tram dan mobil antik Vintage Car keliling area theme park. Dari kereta api Unity Train, kita bahkan bisa melihat harimau putih dan harimau belang yang ada di sebuah kebun binatang mini di sepanjang jalur kereta api. Irza juga sempat mencoba roller coaster kecil disitu, dan sebagai penutup, kita juga menonton atraksi Musical Fountain, pertunjukan air mancur dan sinar laser yang kelihatan mirip dan meniru atraksi Musical Fountain di Sentosa. Setelah itu, kita kembali ke Mines Shopping Fair dan membeli ayam goreng KFC untuk dibawa pulang ke hotel, sebelum akhirnya naik taksi dari sana langsung ke hotel. Harga taksi dari Mines Shopping Fair ke pusat kota Kuala Lumpur adalah RM 30, dan harga-nya fixed dan tidak menggunakan meter. Foto-foto di Mines Wonderland bisa dilihat disini.

Besok paginya, kita sarapan di hotel (foto-fotonya disini) sebelum memulai city tour dengan menggunakan bus yang sama. City tour tersebut dimulai dengan mengunjungi sebuah pabrik coklat bernama QS Chocolate Factory, yang terletak di daerah Jalan Imbi. Disitu, kita bisa mencoba (sampling) coklat-coklat yang dibuat disana. Sayangnya, harga-nya masih terhitung mahal, mungkin karena memang tempat ini kelihatannya diperuntukkan bagi para turis. Saya hanya membeli satu boks coklat saja, mengingat Irza yang suka banget sama coklat itu. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Setelah itu, kita mengunjungi Istana Negara, yang terletak di Jalan Istana, Kuala Lumpur. Istana ini adalah tempat tinggalnya raja Malaysia, Yang Di Pertuan Agong. Tentu saja kita tidak bisa masuk ke dalam Istana, melainkan hanya foto-foto saja di luar gerbangnya. Foto-fotonya bisa dilihat disini.


Dari Istana, kita melanjutkan perjalanan ke Tugu Negara, yang terletak di kompleks Taman Tasik Perdana, tidak jauh dari gedung Parlimen, Kuala Lumpur. Disana kita melihat tugu peringatan yang dibangun untuk mengenang para pahlawan Malaysia yang gugur pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942-1945. Juga ada tugu yang menampilkan tujuh orang tentara Malaysia, dikelilingi oleh kolam yang lengkap dengan air mancurnya yang menari-nari. Irza senang jalan-jalan dan difoto disana. Foto-fotonya bisa dilihat disini.

Dari Tugu Negara, kita kemudian tour dengan bus melewati beberapa tempat bersejarah lainnya, seperti gedung stasiun kereta api lama, Dataran Merdeka, gedung Sultan Abdul Samad dan beberapa gedung lainnya, walaupun kita hanya melihatnya dari bus dan tidak turun untuk mengambil foto.

Bus kemudian melanjutkan perjalanan ke Mid Valley Megamall, dan setelah sempet muter-muter jauh ke arah Bangsar karena supir bus-nya ngelewatin satu belokan, kita sampai ke Mid Valley Megamall sekitar jam 11. Wah, kita diberi waktu sekitar 3 jam sampai jam 2 siang, untuk jalan-jalan sekaligus makan siang. Saya akhirnya membawa Irza ke MegaKidz di lantai atas. MegaKidz ini adalah sebuah indoor playground yang besar, untuk anak-anak bermain luncuran dan panjat-panjatan, mirip seperti yang di Parkway Parade atau Downtown East kalau di Singapura. Setelah Irza puas bermain disana, kita kemudian makan siang di Food Junction food court di lantai yang sama. Foto-foto di MegaKidz bisa dilihat disini.

Setelah selesai makan, kita kemudian ke lantai basement untuk membeli Dunkin Donuts yang tidak ada di Singapura, dan roti Bread Talk yang ternyata halal di Malaysia, sebelum kembali ke tempat kita dijemput oleh bus untuk perjalanan kembali ke Singapura.

Seluruh foto-foto selama perjalanan ke Kuala Lumpur tersebut bisa dilihat disini.

[English version]

12 comments:

Dhonatneth said...

ihh si bapak ini jalan-jalan mulu deh... bikin ngiri.net nehh... :D

Kukuh TW said...

pas besoknya 26-27 juni 2006m giliran gw yang ke KL ndra !

TaTa Handono said...

wedeww kang jalan2 mulu ... mawu dongggggggggg

IndraPr said...

Dhona, Tata: mau ikut jalan2? Ayoo.. :)

Kukuh: kenapa ngga ke KL-nya dua hari sebelumnya, jadi bisa jalan2 dulu Sabtu-Minggu-nya sebelum presentasi hari Senin-nya. :)

Sam said...

wah jadi inget waktu jalan kesana by darat dari sg... detail banget ceritanay pak... saatnya bikin buku journey nih. yok terima tantangannya....

sukses ya

IndraPr said...

Sam: walah, belum waktunya atuh saya buat bikin buku, belum sekaliber Sam dengan OKS-nya. :) :)

Rani said...

wah seru yaaa.. kita juga baru dari m'sia seminggu kemudian, tapi jalan2nya lebih banyak wisata boga hehehe. ternyata roti canai lebih enak daripada roti prata... dan murah meriah pula! kayaknya enak pindah ke KL...

coni said...

wei, ni hao ma kang Indra, wah jln jln terus, cuman bedua aja neh, yg wanita punya acara ndiri ya :)

Haze said...

wuihhh.... kegiatan travellingnya banyak bener.

sure know how to enjoy life hehe...

IndraPr said...

Rani: loh bukannya roti canai = roti prata? :) Iya lah di MY jelas lebih murah dibanding di SG. Tapi pendapatan di MY juga lebih kecil dibandingkan di SG untuk tingkat pekerjaan yang sama. Jadi, ya sama aja. :)

Buying power baru terasa kalau kita earning di SG, spending di MY. :)

Teh Coni: Imel mah katanya udah bosen jalan2 ke KL, jadi lebih memilih tinggal di SG dan shopping (mumpung GSS katanya). :D :D

Haze: of course dong, need to live our life to the fullest, atuh. :)

Iwok said...

Wah asyik kayaknya ya jalan2 ke luar negeri mulu. hehehe pdhl malay tinggal loncat dari Sg ya?

IndraPr said...

Kang Iwok: dari sini ke KL mah masih lebih deket dibandingkan dari Tasik ke Jakarta! :P :P